oleh

Jintar Simajuntak : Bermimpi Jadi Pelatih

inimedan.com Medan

Usai mendulang perunggu dari cabang olahraga karate pada Asian Games 2018 di Jakarta. Karateka andalan Medan ini mengundurkan diri jadi atlet karena ingin bersama sang buah hati yang sering ditinggal kerena mengikuti kejuaraan. Impian karateka bernama lengkap Jintar Simanjuntak  ingin menjadi pelatih untuk menelurkan karateka handal yang disegani lawan saat bertanding.
Sepak terjang alumni SD HKBP ini memulai debutnya sebagai karateka saat berusia 15 tahun tepatnya pada tahun 2002 bergabung dengan Dojo PT. Pelindo I (Persero) di Jalan Krakatau Ujung Medan. Meskipun terbilang telat untuk menekuni olahraga bela diri ini tak mambuat dirinya patah semangat.
Atlet yang dilahirkan di Medan ini ternyata memiliki darah petarung. Pasalnya belum ada setahun berlatih sang pelatih mempercayakan alumni SMPN 24 Medan ini untuk ikut kompetisi pertama kali kejuaraan karate Nomensen. Namun karateka yang dilahirkan 4 Nopember 1987 ini gagal untuk meraih medali. Kegagalan tersebut membuat atlet yang berdomisili di Jalan Ampera I Kecamatan Medan Helvetia bertekad dalam hati untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik pada kejuaraan karate untuk dilakoni selanjutnya.
Waktu terus berjalan membuat Alumni SMA Krakatau Medan ini semakin memfokuskan diri latihan untuk memperbaiki diri. Pada tahun 2006, Jintar dipercayakan mengikuti laga perdana tingkat nasional bertajuk “Kejuaraan Karate Piala Kasad” yang digelar di Medan. Kejuaraan ini merupakan seleksi untuk membentuk tim nasional yang dipersiapkan untuk menjadi kontingen merah putih pada Asian Games 2006 di Doha dan Sea Games 2007 di Thailand. Namun, pada kejuaraan tersebut, Jintar terhenti di semifinal kalah dari karateka nasional asal Jawa Barat Rizky Syahbana. Dirinya berhasil menyebet peringkat 3 di kelas -65 kg senior putra.
Debutnya dalam dunia karate semakin diperhitungkan setiap laga nasional dan internasional. Selama 10 tahun menjadi penghuni tim Indonesia di Pelatnas. Pada tahun 2007 berhasil mendulang emas kelas bebas pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Torehan tersebut membuat Jintar menjadi Idola di komunitas karate Sumut dan mendapat beasiswa dari universitas tempat dirinya menimba ilmu.
Prestasi demi prestasi telah diraih Jintar tingkat nasional antara lain juara I kumite kelas bebas senior putra Kejurnas karate Piala Maesa X Jakarta 2008, juara I kumite senior putra kelas -67 kg Kejurnas karate Piala Kasad Surabaya, Jatim 2010, Juara I kumite senior putra kelas -67 kg PON XVII Riau 2012, juara I kumite senior putra kelas -67 kg Kejurnas karate Piala Kasad XI Batam, Kepri 2013, juara I kumite senior putra kelas -67 kg Kejurnas karate Piala Kasad XII Makasar 2014, juara II kumite senior putra kelas -67 kg Pra Pon Medan 2015, juara III kumite senior putra kelas -67 kg  PON XIX Jabar 2016, juara I kumite senior putra kelas -67 kg Master Cup Test Event Asian Games 2018 Cibubur, Jabar 2017 dan juara I kumite senior putra kelas -67 kg seleksi nasional tahap II Asian Games 2018 Cibubur, Jabar 2018.
Torehan prestasi tingkat internasional antara lain juara I kumite senior putra -65 kg Teluk Danga Games Johor Bahru, Malaysia 2007, juara I kumite senior putra -65 kg KOI Asian Open Malaysia 2008, juara I kumite senior putra kelas -67 kg Korea Open Korsel 2010, juara I kumite senior putra kelas -67 kg Asian Pasific Shito Ryu Karate Federation Jakarta 2010, juara I kumite senior putra kelas -67 kg Swedia Open, Swedia 2011, juara II kumite senior putra kelas -67 kg SEAKF Bangkok, Thailand 2012, juara I kumite senior putra kelas -67 kg Sea Games Myanmar 2013, juara II kumite beregu senior putra International Open Marmara Cup Istanbul, Turki 2014, juara I kumite beregu senior putra Malaysia 2016, juara I kumite senior putra kelas -67 kg SEAKP Indonesia 2016, juara I kumite senior putra kelas -67 kg SEAKP Vietnam 2017,
juara I kumite senior putra kelas -67 kg Gothenbourg Open, Swedia 2018 dan juara III kumite senior putra kelas -67 kg Asian Games Indonesia 2018.
Jintar mengatakan pengalaman sebagai atlet yang sudah cukup lama dan berbagai suka dan duka yang dialaminya. Dukanya pada tahun 2015 mengalami cidera lutut saat berlaga. Hal ini tentunya berhenti sejenak untuk ikut pertandingan dan fokus untuk melakukan pengobatan.
“Ya tentunya pengobatan dilakukan dengan terapi membutuhkan biaya yang besar. Saat meminta bantuan untuk perobatan tidak mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Namun, perhatian tersebut datang dari KONI yang membantu untuk meringankan biaya terapi” ujar Jintar di Medan, Senin (24/9).
Jintar pun mengaku usai laga di Asian Games 2018 mengundurkan diri jadi atlet. Namun masih memiliki tekad untuk memperkuat Sumut pada PON Papua. Ketekadan pun terhenti karena regulasi PON dimana atlet yang berlaga maksimal berumur 27 tahun.
“Sebenarnya saya ingin tampil terakhir di PON Papua. Namun ada regulasi yang membatasi umur atlet maksimal 27 tahun, sedangkan saya sudah kepala 3. Impian saya  ke depan ingin menjadi pelatih  dengan harapan agar muncul anak didik yang berprestasi, sebagai regenerasi yang lebih baik dari saya untuk menbawa nama harum kota Medan, Sumut dan Indonesia. Apalagi saat ini saya berhenti jadi atlet tidak ada lagi katateka putra Sumut yang menjadi penghuni Pelatnas dan hanya ada dua karateka putri. Keduanya diprediksi akan meninggalkan Pelatnas karena impian setiap atlet berbeda. Pasalnya atlet yang berhasil meraih medali diberikan kemudahan untuk masuk TNI/Polri dan PNS ,”pungkasnya. (bayu).

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed