oleh

Pohon Aren di Taput  “Tambang Duit” yang Menggiurkan 

inimedan. com_Taput.
Pohon aren, yang orang Batak Toba menyebutnya “bagot”, kini jadi salah satu jenis tanaman keras yang dianggap berpotensi menjadi sumber penghasilan menggiurkan. Selama ini pohon bagot dianggap hanya pohon liar yang tumbuh sendiri di kawasan hutan. Ternyata, aren bisa  menjadi ” tambang duit”, jika ada niat dan minat mengelola dengan sabar dan sungguh-sungguh.
Pohon aren diketahui sebagai pohon serba guna. Selain bisa menghasilkan gula aren dan minuman tuak, juga menghasilkan buah kolang kaling, selain ijuk dan lidinya buat sapu. Konon, ada legende tentang bagot di Tanah Batak yang masih melekat hingga sekarang. Tentang seorang gadis yang rela berkorban nyawa demi menyelamatkan orangtuanya dari lilitan hutang.
Si gadis berpesan, jika ia berubah menjadi wujud sebatang pohon, kiranya menjadi sumber pendapatan bagi ayahnya untuk bisa melunasi hutangnya. ” Air mataku nanti jadi minuman yang disukai banyak orang, ” antara lain kutipan ucapan si gadis sebelum mengembuskan nafas terakhir.
Sementara itu, adalah Jan Piter Lumbantoruan ( JPL) yang terinspirasi dari berbagai bacaan referensial, sehingga terpicu niat merintis pengembangan aren berwawasan masa depan. Dengan tersedianya bibit aren di berbagai daerah saat ini, JPL langsung mengelola tanah di kampung halamannya Kecamatan Lintong Ni Huta, Kabupaten Humbang Hasundutan. Secara bertahap bibitnya ditanami dengan semangat optimistis bahwa satu saat itu akan membuahkan sukacita, bukan untuk diri semata tapi terutama untuk generasi berikut. Itu tercatat sekitar 2010. Sementara proses pertumbuhan aren diperkirakan 12 tahun sampai menghasilkan.
“Sebelum anak kami  Eben Ezer Lumbantoruan lahir, saya sudah tanam Aren. Sekarang anak kami yang paling kecil sudah kelas 4 SD, Arennya mulai menghasilkan. Saya bilang sama Eben Ezer Lumbantoruan, rajinlah belajar, uang kuliahmu sudah kami persiapkan dengan menanam aren, ” tutur JPL saat berbincang dengan jurnalis media ini, dikantornya Perusda Pertanian Taput.
Pemerhati sekaligus praktisi pertanian ini, menyebut ia telah menanami aren sebanyak 250 pokok, diawali tahun 2010,karena ketertarikan dan optimisme bahwa tanaman itu punya nilai ekonomis yang menjanjikan dalam jangka lama. Setelah menunggu 12 tahun, kini sebanyak 70 pokok aren tersebut telah meneteskan hasil. “Dapat tetesan tuak Rp 30 ribu tiap petang, sudah syukur, ” ucap mantan Ketua KPUD Taput yang kini dipercayakan menjabat Direktur Perusda Taput.
Ia menyebut produk itu dengan nama unik ” Tuak Takkasan Gambo Ganjang”, mungkin terkait nama kawasan lahan tumbuhnya pokok aren yang dikelolanya. Karena keaslian rasa dan kualitasnya yang super,  peminat yang memesan terus bertambah.
Ket.Gambar :Yanpiter Lumbantoruan berpose dengan salah satu aren di kebun. ( dok. JPL )
JPL yang ikut bergabung dalam wadah Komunitas Aren Indonesia, juga aktif memasarkan bibit aren dengan niat positif, membuka ruang baru untuk perluasan kebun aren di Taput. Ia optimis, aren bisa menjadi sumber pendapatan menggiurkan pada waktunya. “Dengan menanam pohon dan merawatnya, kita sudah menitipkan mata air ke anak cucu, bukan air mata, ” catat JPL melalui akun spesialnya di medsos.
Satu hal juga diingatkannya, menanam aren jangan dikira cuma mengharap memproduksi minuman tuak semata. Dengan pembuatan gula merah, juga hasilnya cukup menjanjikan. Dari satu pokok aren paling tidak bisa menghasilkan 1,5 kilo gula, seperti pengakuan pegiat tanaman aren di Siantar.
Selain itu aren menurut penelitian ilmiah termasuk tanaman potensial mengandung Bioethanol yang satu saat menggantikan bensin. Itu fakta sungguh luar biasa, ujar JPL yang tak kenal lelah menjelajah ilmu dari berbagai sumber internet sebagai modal  menguatkan keyakinan dan kemampuannya mengelola kebun arennya, yang kini telah mengundang decak kagum berbagai kalangan. *leonardo tsm#

Komentar

News Feed