oleh

Ratusan Wartawan Unjuk Rasa Ke Polres Simalungun

Inimedan.com – Simalungun

Ket.Photo : Kapolres Simalungun sedang memberikan penjelasan kepada Wartawan pengunjuk rasa.

Ratusan jurnalis yang tergabung dalam Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Medan, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), KWRI dan Ikatan Wartawan Online (IWO), serta komunitas wartawan lainnya, menggelar aksi damai dengan tema ‘Aksi Pers Melawan Bedebah’ di Mapolres Simalungun, Pamatang Raya, Kabupaten Simalungun, Senin 21 Juni 2021.

Kedatangan para jurnalis ke Mapolres Simalungun untuk menyampaikan aspirasi terkait kasus pembunuhan, terhadap salah satu pimpinan media online Marsal Harahap. Dalam aksi pers melawan bedebah tersebut, jurnalis menyatakan beberapa sikap yaitu:

1. Mengecam aksi pembunuhan terhadap Mara Salem Harahap (Marsal). Apapun alasan yang melatarinya, tindakan kekerasan dan aksi main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan karena Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum.

2.Meminta Polda Sumut dan Polres Simalungun mengungkap motif dan menangkap pelaku pembunuhan Mara Salem Harahap.

3.Meminta Polda Sumut, Polres Pematangsiantar, Polres Serdangbedagai, dan Polres Binjai untuk melanjutkan proses penyelidikan terhadap kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terjadi di wilayahnya. Ketidakpastian hukum dalam kasus kekerasan terhadap jurnalis menjadi preseden buruk yang merugikan dunia pers, karena tidak memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan. Kondisi ini juga diduga menjadi penyebab semakin tingginya jumlah dan kualitas kekerasan terhadap jurnalis di Sumatera Utara.

4. Negara melalui Polri diminta memberikan jaminan perlindungan dan keamanan terhadap wartawan ketika menjalankan tugas jurnalistik sebagaimana diamanahkan undang-undang (UU), dalam hal ini UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

5. Meminta Poldasu dan Polres Simalungun untuk bersikap dan bertindak transparan dalam menangani perkara pembunuhan Marsal Harahap. Dalam hal ini, kami mendesak Poldasu dan Polres Simalungun untuk menyiarkan secara resmi ke publik, tentang:

a. Penyebab kematian Marsal Harahap, untuk menghindari simpang siurnya informasi. Karena informasi yang valid merupakan hak publik.

b. Menjelaskan ke publik terkait luka tembak yang di alami Marsal Harahap. Ada berapa luka tembak yang mengenai bagian tubuh Marsal Harahap dan ada berapa kali tembakan.

c. Menjelaskan ke publik tentang jenis peluru yang melukai Marsal Harahap dan jenis senjata yang digunakan pelaku.

6. Meminta semua elemen masyarakat agar mendukung kebebasan pers dan menggunakan mekanisme yang diatur oleh Undang-Undang Pers dalam penyelesaian sengketa pers.

7. Meminta seluruh jurnalis untuk mengedepankan profesionalisme dan mengutamakan keselamatan dalam menjalankan kerja jurnalistik.

Kapolres Simalungun AKBP Agus Waluyo yang langsung menerima aspirasi jurnalis menyampaikan, pihak kepolisian sangat serius dalam menangani pengungkapan kasus kematian Marsal Harahap.

“Dari awal kejadian kita sudah melaksanakan TPTKP, olah TKP dan tahapan itu kita tekankan untuk dilakukan sesuai SOP. Setelah kejadian tersebut, saya dan Bapak Dirkrimun Polda Sumut sudah berada di TKP, itulah kesungguhan kami untuk betul-betup mengungkap perkara ini,” ucap Kapolres Simalungun AKP Agus Waluyo.

Kapolres juga menerangkan, kasus kematian Marsal Harahap ditangani oleh tim gabungan yang dibentuk oleh Kapolda Sumut. Terkait hasil otopsi dan jenis proyektil, senjata dan lainnya, Kapolres Simalungun mengatakan, penyidik masih menunggu hasil atas informasi tersebut dari tim forensik. Pihak kepolisian akan transparan dalam penanaganan kasus kematian jurnalis Marsal Harahap. (TP)

Komentar

News Feed