oleh

Surya Dharma Pelatih Terbaik Jujitsu Sumut 2019

Inimedan.com-medan
Perasaan bangga dan haru menyatu dalam hati saat namanya disebutkan oleh tim penilai yang terdiri dari Ketua Dewan Pelatih dan pelatih Jujitsu Fighter Sumatera Utara (JFS) sebagai pelatih terbaik Jujitsu Sumut 2019 dalam acara Gashuku di Sibolangit Kabupaten DeliSerdang, baru-baru ini.
Hasil yang diraih juga pernah ditorehkan jujitsan yang berdomisili di Jalan Penguin Raya IV Perumnas Mandala ini pada tahun 2011 sebagai pelatih terbaik. Untuk kedua kalinya pria bernama lengkap Surya Dharma menyabet sebagai pelatih terbaik Jujitsu Sumut. Hasil yang diraih merupakan kerja keras dan latihan serta mengembangkan jujitsu dengan memberikan ilmu bela diri asal Jepang ini kepada anak didiknya di Dojo Tirtanadi Medan.
Pria yang akrab disapa Surya ini mulai menekuni bela diri jujitsu sejak tahun 1990. Sebagai warga Sumut darah petarung mengalir dalam jiwa sehingga mengabdi di jujitsu hingga saat ini. Pria yang lahir pada 11 September 1976 ini telah membukukan prestasi antara lain jujitsan terbaik 1995, meraih perak Kejurda 1996 di Medan dan meraih emas Kejurda 1997 di Medan serta dinobatkan sebagai jujitsan terbaik.
“Prediket sebagai pelatih terbaik jujitsu merupakan anugerah dari yang Maha Kuasa dan dipersembahkan sebagai hadiah akhir tahun buat isteri tercinta, Atika dan anak tersayang M Ridho. Mereka sangat banga atas prestasi yang telah ditorehkan. Namun hasil yang diraih tersebut merupakan tanggungjawab sehingga ke depannya sebagai pelatih harus memberikan contoh yang baik saat latihan. Tentunya dengan mengutamakan disiplin”. ujar anak dari almarhum Effendi dan almarhumah Fatimah Dewi di Medan, Jumat (3/1/2020).
Penyandang sabuk Hitam DAN III ini menuturkan penghargaan yang diterima merupakan kebanggaan di saat usia tidak muda lagi. Gelar pelatih terbaik belum tentu bisa diraih kalau tidak dengan kerja keras untuk melatih anak anak didik. Hasil yang diraih diharapkan dapat memberikan motivasi jujitsu junior untuk lebih giat lagi berlatih, dalam nengembangkan ju-jitsu kedepan. “Terima kasih kepada senior yang telah memberikan kepecayaan kepada saya untuk mengajar peserta didik dan memotivasi saya saat memberikan ilmu jujitsu kepada jujitsan serta memberikan masukan tentang teknik-teknik jujitsu.
Anak ke delapan dari sebelas bersaudara ini menjelaskan jujitsu pada dasarnya adalah bentuk-bentuk pembelaan diri yang bersifat defensif dan memanfaatkan “Yawara-gi” atau teknik-teknik yang bersifat fleksibel, dimana serangan dari lawan tidak dihadapi dengan kekuatan, melainkan dengan cara “menipu” lawan agar daya serangan tersebut dapat digunakan untuk mengalahkan dirinya sendiri.
Alumni Perguruan Widyasana Medan ini menambahkan untuk menjadi jujitsan harus disumpah yaitu bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, taat kepada orangtua, sanggup menjaga nama baik jujitsu, bersikap kesatria dan jujur serta taat pada pelatih. Selain itu, sebagai jujitsan harus menjunjung tinggi semboyan jujitsu yaitu berlatih jujitsu demi kemanusiaan, tidak boleh sombong, melindungi yang lemah, berdiri di pihak yang benar, jujitsu hanya digunakan dalam keadaan terpaksa, dan dalam latihan tidak ada tawa dan tangis.
“Untuk ke depannya saya bertekad untuk memajukan dan mengembangkan bela diri jujitsu di wilayah Sumatera Utara dengan misi menciptakan jujitsan yang handal dan tangguh sebagai petarung yang dipersiapkan untuk menjadi kontingen Sumut yang akan berlaga di arena bergengsi olahraga tanah air yang digelar empat tahunan di Sumut-Aceh PON XXI pada tahun 2024”. pungkasnya.(bayu)

Komentar

News Feed