oleh

Yudy Nawawi Pesilat Unggulan Sumut

Inimedan.com-medan
Pesilat Sumut bernama lengkap Yudy Nawawi ini berhasil menorehkan presrasi dengan raihan emas pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (Popwil) I Sumatera 2018 yang digelar di Propinsi Aceh. Pesilat dari perguruan Tapak Suci ini ingin mengulangi kesuksesan pada Popnas 2019 di Papua.
Darah petarung anak bungsu dari tiga bersaudara ini sudah bergelora sejak usia berusia 14 tahun. Hal ini dibuktikan atlet kelahiran Rantauprapat saat laga final kelas E putra
yang digelar di GOR Gampong Lambung Meuraxa, Bandaaceh.
Pelajar SMA Darul Arafah Raya ini dengan teknik dan strategi mengkandaskan pesilat Bagas Satria Laras 5-0 pada babak kedua.
Untuk babak ketiga pelatih Kepri melemparkan handuk untuk menghentikan pertandingan karena atletnya kalah kualitas dari Sumut.
Tidak hanya itu, pesilat yang dilahirkan 17 tahun silam ini sebelumnya dalam partai semi final berhasil menang mudah atas pesilat Sumbar, Fadlan Rusli dengan skor 5-0.
Hasil yang diraih merupakan kegagalan yang tertunda. Pasalnya anak dari pasangan Adiyanto dan Yuspita Yuhanni yang juga memperkuat Popwil di Riau 2016 yang bertarung di kelas B putra. Saat itu berat badan 58 kg dan harus turun menjadi 47 kg. Usaha yang telah dilakukan hingga 48 kg. Namun pihak panitia tidak memberikan izin untuk turun berlaga karena memiliki berat badan lebih 1 kg.
Hal ini membuatnya kecewa apalagi dirinya telah mempersiapkan dengan matang di arena olahraga antar pelajar tersebut.
Tidak hanya itu saja, saat melakoni laga di kelas F putra melawan Sulawesi Utara pada ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN)di Medan tahun lalu. Dirinya kena diskualifikasi karena timbangan kurang dari 2 ons.
“Ternyata dalam bela diri pencak silat berat badan sangat mempengaruhi dalam laga. Sudah dua kali gagal bertarung hanya gara-gara berat badan. Untuk ke depan saya tetap konsisten untuk menjaga berat badan sehingga tak terulang lagi kegagalan dalam bertarung” ujar Yudy di Medan, Selasa (6/11).
Ia mengatakan untuk POPNAS tahun depan di Papua berat badan menjadi perhatiam yang serius untuk tampil maksimal dengan target medali emas.
“Target POPNAS insya allah meraih keping emas. Untuk memperoleh tentu dengan latihan keras, semangat juang yang tinggi disertai dengan doa dan dukungan kedua orang tua dan pelatih” tutur pesilat yang memiliki tinggi badan 172 cm ini.
Incaran prestasi yang diraih karena dirinya sangat haus dengan prestasi dan dapat membanggakan kedua orang tua.
Ia mengatakan pencak silat adalah olahraga bela diri yang memerlukan banyak konsentrasi. Selain itu, membangkitkan rasa percaya diri, melatih ketahanan mental, mengembangkan kewaspadaan diri yang tinggi, membina sportifitas dan jiwa kesatria, disiplin dan keuletan yang lebih tinggi.
Ia menambahkan di tingkat nasional olahraga melalui permainan dan olahraga pencak silat menjadi salah satu alat pemersatu nusantara, bahkan untuk mengharumkan nama bangsa, dan menjadi identitas bangsa
“Sejak kecil saya sangat hobi dengan pencak silat. Tentunya target ke depan tidak hanya membawa Sumut pada tingkat nasional saja tapi dapat menjadi bagian dari kontingen merah putih” tutupnya. (bayu)

Komentar

News Feed