oleh

Almarhum Nur’ain Sangat Mengayomi Mahasiswanya

 

Pancurbatu-inimedan.com.

Kediaman orang tua almarhumah Dra Hj Nur’ain Lubis MAP di Jalan Lama, Dusun III Desa Lama,  Kecamatan Pancur Batu, Kab. Deli Serdang masih dipadati ratusan sanak keluarga maupun kerabat almarhumah yang datang melayat. Jenazah almarhumah sendiri dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Muslim Desa Lama Pancur Batu, Selasa (3/5) siang sekira pukul 13.00 WIB usai sholat Zuhur.

Sesuai dengan pantauan di rumah duka, ratusan pelayat baik dari masyarakat  tetangga, mahasiswa, dosen, Rektor UMSU, dan  Muspika Pancur Batu terlihat datang memberi ucapan belasungkawa kepada keluarga almarhumah yang ditinggalkan.

Pada kesempatan itu, Rektor UMSU, Dr Agussani MAP mengatakan, almarhumah  Nur’ain Lubis memiliki integritas yang cukup luar biasa, sehingga dikenal sebagai tokoh pendidikan UMSU. Selain itu, Nur’ain sangat mengayomi para mahasiswa.   “Atas pengayoman beliau, para mahasiswa memanggilnya dengan panggilan bunda,” katanya.

Diakuinya, almarhumah mengabdi menjadi dosen di UMSU sudah 29 tahun. “Pada tahun 2001-2005 sebagai Wakil Dekan I FKIP UMSU. Pada 2005-2013 dipercayakan sebagai Dekan FKIP UMSU.  Sejak  menjabat Dekan FKIP UMSU selama dua periode, beliau mencetak alumni FKIP UMSU terbaik sebanyak 4000 orang lebih,” sebutnya.

Dr Agussani juga menyatakan, pihak UMSU rencananya akan  memberikan santunan kepada keluarga almarhumah Nur’ain Lubis. “Mudah-mudahan, meski tidak terlalu besar, namun santunan yang akan diberikan nanti, bisa membantu meringankan  kehidupan keluarga almarhumah,” harapnya.

Dikatakannya, selama dua hari (3-4 Mei), seluruh aktivitas proses perkuliahan di UMSU diliburkan. “Bahkan,  seluruh kampus telah mengibarkan bendera setengah tiang,” ujarnya.

Terkait penyelesasian kasus pembunuhan yang dialami  dosen terbaik UMSU itu, pihak kampus meminta kepada Polresta Medan untuk mengusut dan membuka kasusnya secara transparan. “Kita juga tidak menginginkan kejadian ini terulang kembali di UMSU,” terangnya.

Sementara itu, Bupati Deliserdang diwakili Camat Pancur Batu Drs Antonius Pangaribuan didampingi Sekretaris Camat Pancur Batu W Karo-karo SE dan Kepala Desa Lama,  Pancurbatu Nizar L Tarigan mengaku,  sangat terkejut atas kepergian Nur’ain menghadap Sang Pencipta untuk selama-lamanya dengann cara yang cukup tragis.

Menurut Camat,  masyarakat Pancur Batu mengenal Nur’ain sebagai tokoh pendidikan dari UMSU asal Kecamatan Pancur Batu. “Kita merasa kehilangan putri terbaik asal Pancur Batu yang telah mengabdikan diri di dunia pendidikan di UMSU selama 29 tahun lamanya,” pungkas Antonius Pangaribuan.

Ramah  dan  Bermasyarakat

Almarhumah Nur’ain Lubis memang dikenal sebagai sosok wanita yang ramah dan bermasyarakat. Jika ada kegiatan sosial maupun kegiatan agama di kampung halamannya itu (Pancur Batu), almarhumah pasti berusaha menghadirinya setiap kali diundang.

Hal itu diutarakan,  M Taufik Lubis yang merupakan sepupu korban saat ditemui wartawan di rumah duka. “Dia (almarhumah) sepupu kami, dan saya juga satu sekolah waktu  SD di Alwaslyah. Dia di SMP Negeri I Pancur Batu dan lanjut dia SPG di Jalan Serdang, Medan,” ucap Taufik.

Diungkapkannya, almarhumah Nur’ain sangat dekat dengan  keluarga. Meski sudah lama tinggal di Medan, namun almarhumah kerap datang ke Pancur Batu.  Apalagi jika ada kegiatan sosial, almarhumah pasti cepat datangnya.

“Dalam kehidupan sehari-harinya, almarhumah memang dikenal  sangat bermasyarakat. Tak pernah marah, kalau pun marah, dia berusaha tetap senyum dan senyumnya itu  buat kami tenang,” ungkap Taufik yang juga diamini warga Desa Lama,  Pancur Batu.

Disinggung mengenai hukuman yang pantas diberikan kepada tersangka yang menghabisi nyawa Nur’ain tersebut, Taufik mengatakan, pihak  keluarga  berharap agar tersangka dihukum  seberat-beratnya.

“Kami hanya minta agar  tersangka dihukum seberat-beratnya. Sehingga bisa memberi efek jera terhadap si tersangka, termasuk bagi yang lainnya agar tidak melakukan perbuatan melawan hukum, apalagi menghabisi nyawa orang lain,” pintanya.

Sementara itu, Taba Nasution (39) warga Desa Lama, yang merupakan keponakan almarhumah mengatakan, sejak suaminya Zulkifli pensiun dari Dinas Perhubungan(Dishub) Sumut sekitar 3 tahun lalu, almarhumah memang jadi tulang punggung bagi keluarganya.

“Apalagi tak lama setelah pensiun, om Zulkifli menderita penyakit stroke dan harus menggunakan kursi roda. Namun, meskipun jadwal  mengajar di Kampus UMSU terbilang cukup padat, namun almarhumah tetap tak melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang isteri  yang harus mengurus sang suami,” sebutnya.[im-01/mp]

 

Komentar

News Feed