Kerusuhan di Lapas Lambaro Banda Aceh Karena SOP Tidak Berjalan

Jakarta-Inimedan.com.
Kerusuha di Lapas Lambaro Banda Aceh karena SOP tidak berjalan baik, demikian anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil mengatakan saat meninjau lembaga pemasyarakat (Lapas) Lambaro Banda Aceh pasca kerusuhan Kamis lalu, kunjungannya dalam rangka ingin melihat akar permasalahan yang sebenarnya terjadi sehingga memicu terjadinya kerusuhan, demikian keterangan pers humas DPR RI, Kamis (11/1) di DPR RI Jakarta.
Menurut Nasir Djamil, berdasarkan informasi yang dihimpun, sepertinya protap tidak berjalan dengan baik dan terabaikan. Oleh karena itu dengan diupayakan mengembalikan protap dan ditegakkan disiplin terhadap protap terjadi penolakan penolakan. “Ini dikarenakan ada napi-napi yang diistimewakan dan napi ini juga memberikan kontribusi untuk napi-napi lainnya ketika mau dipindahkan lalu mereka bereaksi dan memprovokasi napi-napi lainnya.”
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengatakan Komisi III melihat akar masalahnya dan bagaimana ke depan mengantisipasi agar kejadian ini tidak terjadi lagi, karena sepengetahuannya sudah kedua kali terjadi hal serupa disini dengan tingkat yang berbeda, tetapi kemarin ada kendaraan polisi yang dibakar. “Ini menunjukkan mereka tidak main-main membakar mobil polisi, menurut saya sudah sesuatu yang berani maka ini harus diusut dan saya pikir kepolisian dalam konteks penegakan hukum harus tegas dalam hal ini.”
Untuk itu Komisi III nanti dalam Rapat kerja akan meminta Kementerian Hukum dan HAM untuk mengevaluasi pejabat-pejabat terkait yang ada di sini terutama di Aceh yang mengelola Lembaga Pemasyarakatan ini. Terkait dengan adanya fasilitas kamar yang tidak sesuai dan peredaran narkoba di dalam Lapas, karena ada pembiaran napi kalau sejak awal dicegah barangkali tidak akan terjadi.
Solusi dari Komisi III, dengan datang ke sini untuk mendengar nanti dalam rapat kerja dengan Kementerian Hukum dan HAM akan memberikan pandangan-pandangan agar ke depan tidak terjadi kerusuhan. “Jadi ada fungsi-fungsi yang diabaikan, tidak disiplin fungsi preventif, seharusnya ada deteksi dini sehingga dapat dilakukan pencegahan barangkali selama ini sedikit lengah sehingga terjadi hal ini,” tutur Nasir Djamil. (gus).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *