Proyek Kampung Nenas di Taput Terlantar Jadi ‘ Sarang Ular’

Inimedan. com-Taput  |  Proyek Kampung Nenas di. Proyek ‘ Kampung Nenas ‘ yang dibangun di desa Onan Runggu Kecamatan Sipahutar, Tapanuli Utara, saat ini keadaan terlantar, tak berfungsi sama sekali sejak dibangun dengan biaya cukup besar Rp 2 miliar. Padahal, ide membangun proyek ini sebenarnya bagus untuk mendongkrak perekonomian masyarakat setempat, sekaligus dalam pengembangan wisata kuliner di daerah tersebut. Kecamatan Sipahutar sejak dulu sudah terkenal sebagai daerah produsen nenas.

Proyek Kampung Nenas di. Proyek Kampung Nenas yang dikelola Dinas Pariwisata Taput itu sejak dibangun tidak berfungsi sama sekali, dan saat ini kelihatan sudah dikerumuni semak belukar. Sejumlah warga di sekitar menyesalkan terlantarnya proyek berbiaya miliaran itu, mubazir tak jelas kegunaannya. Bahkan Manulus Pasaribu seorang warga yang diwawancarai jurnalis elektronik NTV mengecam, bahwa bangunan proyek itu sekarang sudah menjadi sarang ular, selain sering dijadikan  untuk pesta miras oleh kalangan tertentu.

Beberapa warga Sipahutar kepada media ini menyebut, proyek mubazir itu juga  terkesan menjadi tempat orang- orang tertentu untuk berkencan. Namun hal itu belum dibuktikan sejak dugaan itu muncul di kalangan masyarakat.

Informasi lainnya diperoleh menyebut, proyek wisata Kampung Nenas dibangun di areal dua hektare lahan milik masyarakat, dengan sistem pinjam pakai selama 20 tahun. Warga pemilik tanah di Onan Runggu rela dan bangga memberikan lahan,dengan harapan proyek itu berdampak pada kemajuan desa itu. Proyek ini sudah diresmikan pada tahun 2021 lalu, dan pengelolaannya diserahkan kepada Dinas Pariwisata Tapanuli Utara.

Namun tampaknya sejak proyek itu diresmikan, tidak ada tanda- tanda proyek itu berhasil guna sesuai peruntukannya. Ada kesan seolah-olah pihak Dinas Pariwisata Taput mengabaikan keberadaan proyek berbiaya 2 miliar tersebut.

“Dinas Pariwisata sepertinya tidak mampu mengelola proyek nenas ini ataukah mungkin ada pembiaran sehingga terlantar sampai saat ini, ” cetus Simanjuntak, seorang warga Taput. Dia berpendapat seharusnya Kadis Pariwisata Taput S. Situmorang tidak bungkam jika dikonfirmasi wartawan. Ada baiknya diberi penjelasan secara detil, apa masalahnya sehingga proyek itu tak berfungsi.

Pendapat warga lainnya mengatakan, pembangunan proyek tersebut pasti berangkat dari niat baik mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat setempat selain berdampak pada kepariwisataan, jika Dinas Pariwisata mampu membuat terobosan dalam pengelolaannya. *le#

 

Komentar