oleh

Pelestarian Adat dan Budaya Daerah Tanggung Jawab Bersama

Sei Rampah-inimedan.com
Dalam rangka melestarikan sekaligus menggali keragaman budaya Jawa, Paguyuban Temu Kangen Bedah Budaya menggelar silaturahmi mengawali kegiatannya ditahun 2017 yang dilaksanakan di Rumah Dinas Bupati Komplek Kantor Bupati Serdang Bedagai (Sergai), Kamis (2/3).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Ir. H. Soekirman, Ketua TP PKK NY. Hj. Marliah Soekirman, Kadis Ketahanan Pangan Setyarno, SP, Penasehat Paguyuban Pendowo Sumut Rianto Agly, Ketua Paguyuban Temu Kangen Bedah Budaya Sergai H. Poniman, Camat Sei Rampah Haparuddin Saragih, sejumlah tokoh budaya serta anggota paguyuban.
Dalam sambutannya Bupati Sergai Ir. H. Soekirman memberikan apresiasi yang besar kepada paguyuban temu kangen Bedah Budaya yang menggelar acara dengan tujuan melestarikan budaya jawa. Untuk itu Bupati menekankan agar memperhatikan adat budaya jawa khususnya dalam bahasa jawa karena ini merupakan tanggung jawab bersama. “Jangan sampai hilang ditelan zaman karena saat ini menurut penelitian lembaga dunia UNESCO bahwa hanya tersisia 300 bahasa daerah termasuk bahasa jawa, dan justru jumlah tersebut dikhawatirkan semakin berkurang,” kata Bupati Soekirman.
Sebelumnya Ketua Paguyuban Temu Kangen Bedah Budaya H. Poniman dalam sambutannya mengatakan selain untuk melestarikan budaya Jawa kegiatan ini juga untuk menjalin silaturahmi. Disamping itu juga dihimbau bagi suku Jawa harus bisa dan mengerti bahasanya sendiri. Budaya dan tata cara adat jawa harus terus dikembangkan dan dilestarikan dan itu tentu dimulai dari kita dan anak-anak cucu kita, kata H. Poniman.
Acara dilanjutkan dengan membaca bersama dan memaknai dari tema pembahasan yaitu “mangan ora mangan kumpul” artinya makan tidak makan yang penting tetap kumpul. Itu artinya guyub atau kekompakan yang harus dijaga dan dilestarikan. Manusia harus budidaya mangkarya, artinya berusaha dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan nafkah untuk makan, filsafatnya makan untuk hidup dan bukan hidup untuk makan.
Apapun ceritanya sebagai orang jawa kita tetap mangan ora mangan kumpul, jangan sebaliknya. Filsafat ini juga dipakai oleh suku-suku lain di Indonesia sebagai bentuk rasa kebersamaan. Kelihatannya ini yang sedang terjadi di negara ini, banyak orang gontok-gontokan, jegal-jegalan dan menghalalkan segala cara agar tercapai segala keinginannya. Kita sebagai paguyuban harus melestarikan filsafat tersebut dengan tetap mengedepankan rasa kompak, guyub, rukun guna bersama membangun negeri.
Pembahasan selanjutnya adalah “Pandhita Antelu” yaitu tentang adanya watak manusia terutama watak yang pura-pura baik dan yang tidak baik, mengambil uang negara agar kenyang perutnya sendiri, sehingga marak yang namanya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Hal tersebut sudah merasuk kepada pemangku pemerintahan mulai dari jabatan RT, Lurah/Kades bahkan hingga pejabat diatasnya. Pesannya adalah untuk menyadarkan kita bahwa perilaku tersebut tidak amanah dan tidak pantas sebagai orang jawa melakukan hal yang demikian.
Selanjutnya Paguyuban Temu Kangen juga membahas tema “basa lan Sastra Jawa ora bakal cures”, yang artinya bahasa dan sastra Jawa tidak akan hilang ditelan Bumi menjadi penutup pembahasan. Filosofinya adalah jika masih ada orang jawa yang masih ingin belajar bahasa dan sastra jawa, maka tidak akan hilang ditelan bumi. Akan tetapi yang menjadi persoalan saat ini, semakin sedikitnya jumlah sosok dalang wayang di Kabupaten Sergai ini.
Karena itu Bupati Sergai berharap agar kedepannya terus dilakukan pembinaan terhadap dalang wayang, sehingga terlahir generasi penerus bagi dalang wayang. Diakhir pertemuan tersebut turut dilaksanakan penyerahan hibah tanah dari anggota paguyuban atas nama Alm. Safii seluas lebih kurang 807,5 m2 . Tanah ini diharapkan dapat dipergunakan utk kegiatan-kegiatan pelestarian budaya. [im-tt01]

Komentar

News Feed