Dosen Unimed Dirikan Rumah Kunang-Kunang di Siombak

INIMEDAN – Saat ini kunang-kunang sudah mulai langka ditemui, terutama di kota-kota besar. Bahkan, anak-anak sekarang sudah tidak tahu lagi seperti apa bentuk kunang-kunang sesungguhnya, selain hanya dari cerita orang tua mereka atau dari gambar dan internet.

Karena itu, Dosen Pendidikan Sejarah FIS-Unimed Dr Phil Ichwan Azhari MS tertarik mendirikan rumah kunang-kunang agar kelestariannya tidak punah. Berawal dari membeli lahan di tepi Danau Siombak di kawasan hutan mangrove seluas setengah hektar, ia melihat ribuan kunang-kunang hinggap di beberapa pohon berembang yang memang disukai kunang-kunang dipinggiran rumah yang ia beli saat memasuki malam hari. Ia terinspirasi untuk melestarikannya, apalagi habitatnya ini hanya satu-satunya di Medan, yakni di kawasan Danau Siombak Medan Marelan.

“Awalnya Phil Ichwan melihat ribuan kunang-kunang di beberapa pohon, indah sekali, sehingga ia terinspirasi penyelamatan kelestarian kunang-kunang di lahannya sendiri,” kata Pengelola Rumah Kunang-kunang Irfan Efendi ST didampingi Adam kepada Wartawan, Jumat (26/2/2016).

Irfan menambahkan, wisata rumah kunang-kunang ini akan di lounching pada Maret 2016, dan akan dibuka untuk umum. Jika masyarakat ingin melihat kunang-kunang, sebelumnya dapat melihat Museum situs China terlebih dahulu yang terletak di Jl Kota China No 65 Medan Marelan, setelah itu barulah akan diajak ke lokasi rumah kunang-kunang menggunakan perahu selama 5-10 menit.

“Jika pengunjung atau peserta ingin melihat kunang-kunang, maka harus datang pada sore hari, yakni pukul 17.00 Wib. Setelah itu, pengunjung akan dijemput menggunakan perahu keliling pada pukul 17.30 Wib. Sensasinya disini pengunjung juga dapat melihat matahari terbenam (sunset). Kemudian setelah tiba di rumah kunang-kunang, pengunjung dapat melihat visualisasi dan pemutaran film hasil penilitian kunang-kunang. Pukul 18.50-20.30 Wib, pengunjung kemudian diajak menyusuri habitat kunang-kunang di pepohonan berembang. Setelah puas melihat ribuan kunang-kunang ini, pengunjung pun diantar kembali dengan perahu menuju ke tepi danau,” jelasnya.

Dalam mengikuti program ini, pengunjung atau peserta yakni rombongan keluarga, sekolah, organisasi/komunitas harus membawa jaket, sepatu karet, lotion anti nyamuk serta senter kecil. Biaya yang dikenakan sebesar Rp 50.000 per orang termasuk ongkos ke lokasi (PP).

“Tapi anak-anak dibawah 4 tahun dikenakan biaya gratis. Dan ini sudah berupa paket (include) yang dibayar di Museum situs kota lama (China). Karena keterbatasan tempat, hanya mereka yang mendaftar terlebih dahulu yang bisa mengikuti program ini,” ucapnya.
Dijelaskannya, menurut hasil riset, kunang-kunang merupakan sejenis serangga yang dapat mengeluarkan cahaya yang jelas terlihat saat malam hari. Cahaya ini dihasilkan oleh sinar dingin yang tidak mengandung ultraviolet maupun sinar inframerah dan memiliki panjang gelombang 510 sampai 670 nanometer, dengan warna merah pucat, kuning atau hijau.

Kunang-kunang, lanjutnya, menghasilkan cahaya dengan zat kimia yang disebut luciferin di dalam perut/ekor mereka yang digabungkan dengan oksigen, kalsium dan adenosin trifosfat, reaksi kimia terjadi dan menghasilkan cahaya yang spektakuler. Cahaya yang dihasilkan oleh kunang-kunang adalah cahaya paling efisien yang dihasilkan makhluk hidup.

“Kunang-kunang memancarkan sinar untuk saling mengenali atau untuk memberi tanda kawin dengan menggunakan panjang gelombang sinar yang berbeda, tergantung pada spesiesnya. Larva kunang-kunang juga dapat mengeluarkan cahaya ketika terdapat bahaya yang mengancamnya. Cahaya kunang-kunang berperan juga sebagai tanda peringatan, untuk memperingatkan antar sesama jenisnya tentang ancaman bahaya, maupun peringatan bagi serangga dan burung pemangsa agat tidak memakannya,” katanya.

Disinggung mengenai mengapa kunang-kunang dapat punah, Adam menjelaskan, kunang-kunang punah karena desakan pemukiman dan cahaya lampu pada malam hari telah mengganggu sinyal, navigasi serta bahasa komunikasi dari cahaya yang dipancarkan kunang-kunang. Tanpa cahaya yang dipancarkan dari dalam tubuhnya, kunang-kunang akan punah.

Selain itu, sebut Adam, lingkungan yang tercemar dapat menyebabkan telur dan larva kunang-kunang tidak bisa bertahan sehingga perkembangbiakan kunang-kunang sebagai makhluk yang unik tidak bisa dipertahankan di perkotaan atau desa yang sudah terang benderang.

“Apalagi, usia kunang-kunang hanya 8 hari saja. Proses bertelurnya, setelah kawin, kunang-kunang jantan mengorbankan diri, merelakan tubuhnya dimakan si betina agar mendapatkan energi untuk bertelur. Setelah menetaskan telur-telurnya, kunang-kunang betina pun akhirnya mati. Proses hidup yang lama kunang-kunang saat masih menjadi larva, yakni selama 7-8 bulan,” tuturnya.

Karena itu, katanya, kelestarian kunang-kunang ini haruslah dijaga dan kita sangat apresiasi dengan inisiatif Phil Ichwan membuat wisata ini, agar keturunan-keturunan kita kelak tidak hanya mendengar cerita tentang kunang-kunang semata. Karena, sesuai penelitian kunang-kunang merupakan tingkat keterancaman sangat tinggi.

“Untuk pelestariannya, Phil Ichwan berinisiatif meminta kerjasama Pemerintah Kota (Pemko) Medan agar dapat membantu membersihkan Danau Siombak yang saat ini sangat tercemar, baik dari limbah rumah tangga, limbah sampah yang berasal dari buangan sampah masyarakat yang terdapat di Terjun Medan Marelan, serta sampah-sampah yang berasal dari hutan Mangrove. Semoga cita-citanya ini dapat berhasil dan juga berharap ada donasi agar kelestarian kunang-kunang ini dapat terjaga,” ujarnya. [MUL]